Anyaman Cinta di Lembah Mendong: Warisan Hati dari Tasikmalaya
Anyaman Cinta di Lembah Mendong: Warisan Hati dari Tasikmalaya
Tikar mendong hasil kerajinan tradisional dari Tasikmalaya, dirajut dari serat alami di kaki pegunungan Priangan.
Di kaki pegunungan Priangan, tikar mendong menjadi simbol harmoni antara alam dan manusia. Kerajinan khas Tasikmalaya ini mengangkat keindahan tradisi melalui anyaman serat mendong yang alami dan ramah lingkungan.
  Di kaki pegunungan Priangan yang tenang, tempat angin berbisik mesra pada dedaunan mendong, lahirlah seni yang merajut harmoni antara alam dan manusia. Tasikmalaya, kota yang lekat dengan keindahan tradisinya, menyimpan sebuah pusaka berharga: kerajinan tikar mendong. Seperti simfoni yang dimainkan oleh alam, tikar mendong bukan sekadar karya, tetapi melodi yang menari di antara serat-serat kehidupan. H. Abun Benyamin, SE, seorang putra daerah Tasikmalaya yang menggenggam cita-cita di dalam hatinya, telah menata tikar mendong menjadi panggung bagi kekayaan budaya. Dengan semangat yang tak kenal lelah, ia melahirkan Andong Jaya Perkasa, rumah bagi mimpi-mimpi besar kerajinan tradisional. Di bawah tangannya, mendong tak hanya menjadi tanaman liar yang bergoyang di pinggir sawah, tetapi bertransformasi menjadi mahakarya yang memeluk dunia. Tikar mendong adalah puisi tanpa kata, di mana setiap anyaman serat adalah bait yang bercerita tentang ketulusan dan kearifan lokal. Serat-serat mendong yang lentur seperti memeluk angan-angan yang dijalin penuh kesabaran. Tiap helainya berbisik tentang tangan-tangan pengrajin yang penuh kasih, yang tak sekadar menciptakan tikar, tetapi merajut cerita kehidupan. Melalui Andong Jaya Perkasa, H. Abun Benyamin mengangkat kerajinan tikar mendong dari sekadar kebutuhan rumah tangga menjadi lambang identitas budaya. Produknya, yang telah merambah pasar internasional, adalah perwujudan dialog antara tradisi dan modernitas. Mendong yang dulu hanya tumbuh di sudut-sudut sunyi, kini menjadi saksi bisu perjalanan Tasikmalaya menuju dunia. Di setiap serat mendong yang terjalin, terselip filosofi yang mendalam: tentang kesabaran, keuletan, dan cinta. Tikar mendong bukan sekadar benda mati; ia adalah saksi kehidupan, tempat cerita-cerita kecil manusia berpijak dan bernaung. Seperti Tasikmalaya yang memeluk mendong sebagai bagian dari jiwanya, tikar mendong memeluk kehidupan manusia dengan kehangatan. Maka, mari kita lestarikan warisan ini, karena di balik serat-serat mendong tersimpan roh perjuangan para pengrajin, cinta tak berujung pada tanah kelahiran, dan harapan yang terajut indah. Tikar mendong adalah lantunan abadi dari Tasikmalaya, sebuah puisi cinta yang terus hidup di lembah Priangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *